K-apel : Edukasi Kesadaran Kolektif di Ramadhan Hari ke-9
Berita Kegiatan News

K-apel : Edukasi Kesadaran Kolektif di Ramadhan Hari ke-9

Bang Maman 03 Maret 2026 14 views
Ringkasan: Edukasi Literasi Ramadhan

Bertepatan dengan Ramadhan hari ke-9, Lorong Daeng Jakking terasa lebih hidup dari biasanya. Meski tubuh sedang berpuasa, semangat anak-anak tidak pernah surut. Satu per satu mereka datang ke Kampus Lorong Komunitas Anak Pelangi (K-apel) dengan langkah ringan. Ada yang masih mengenakan mukena mungkin dari sholat langsung ke Kampus Lorong, ada yang membawa buku tulis yang mulai penuh dengan catatan Ramadhan. Ruang belajar sederhana di tengah lorong itu yang menjadi pusat pengembangan potensi masyarakat K-apel menjadi tempat bertumbuh, bukan hanya secara akademik, tetapi juga secara spiritual dan sosial. Jum'at, 27/2/2026,

Sebelum materi dimulai, kegiatan diawali dengan mutaba'ah yaumian amaliah Ramadhan. Saya meminta mereka menceritakan aktivitas sejak bangun sahur hingga tarawih malam sebelumnya. "Siapa yang bangun sahur tepat waktu?" Hampir semua tangan terangkat. "Siapa yang shalat Subuh berjamaah?" Beberapa menjawab dengan malu-malu, sebagian lain dengan percaya diri. Kami mencatat bersama yakni sahur, shalat lima waktu, membaca Al-Qur'an, membantu orang tua, hingga mengikuti tarawih. Dari sesi mutaba'ah itu, saya melihat bagaimana pembiasaan ibadah mulai membentuk karakter disiplin dan tanggung jawab pribadi.

Dalam perspektif teori sosial learning Albert Bandura, pembiasaan seperti ini penting karena anak belajar melalui observasi dan penguatan sosial. Ketika mereka saling berbagi pengalaman ibadah, terjadi proses saling meneladani. Ramadhan menjadi ruang pendidikan karakter yang hidup bukan hanya ritual, tetapi proses internalisasi nilai. Di sinilah spiritualitas bertemu dengan pendidikan sosial.

Setelah mutaba'ah, kami masuk pada materi inti yakni edukasi kesadaran kolektif. Tidak ada jarak antara pengajar dan anak-anak. Saya membuka percakapan dengan pertanyaan ringan, "Menurut kalian, kalau lorong kita nyaman dan bersih, siapa yang senang?" Mereka menjawab serentak, "Kita semua." Jawaban sederhana itu menjadi pintu masuk untuk membahas tanggung jawab bersama, arti kebersamaan, dan pentingnya menjaga lingkungan.

Diskusi berlangsung cair. Ada yang mengaku pernah lalai membuang sampah sembarangan dan kini ingin berubah. Ada yang mengusulkan jadwal piket kecil di lorong. Saya menyaksikan sendiri bagaimana proses kesadaran itu tumbuh perlahan. Apa yang kami lakukan sejatinya selaras dengan konsep collective consciousness Émile Durkheim bahwa solidaritas sosial terbentuk dari nilai dan kesadaran bersama yang terus dipupuk dalam komunitas.

Semua proses tersebut berjalan dalam bingkai kurikulum CAKEP BERDAYA (Cerdas, Kreatif, Empati, Progresif, Berdaya).
Mereka belajar Cerdas, dengan memahami hubungan sebab-akibat dari setiap tindakan.
Mereka dilatih Kreatif, dengan merancang solusi sederhana bagi persoalan lorong.
Mereka menumbuhkan Empati, dengan mendengarkan pengalaman teman-temannya selama Ramadhan.
Mereka diarahkan menjadi Progresif, berani memperbaiki diri dari hari ke hari.
Dan pada akhirnya, mereka menjadi Berdaya, karena kesadaran itu tumbuh dari dalam, bukan karena tekanan.

Pendekatan ini juga sejalan dengan gagasan Paulo Freire tentang pendidikan dialogis bahwa pendidikan bukanlah proses "mengisi gelas kosong", melainkan membangkitkan kesadaran kritis. Saya merasakan betul bahwa mengedukasi tidak sama dengan memerintahkan. Pendidikan bukan tentang siapa yang paling keras berbicara, tetapi siapa yang paling tulus menyentuh hati.

"Mengedukasi itu seperti melodi gitar; ia tak selalu keras terdengar, namun ketika dipetik dengan hati yang tulus, setiap nadanya mampu menggetarkan jiwa dan menghadirkan keindahan yang tak terlihat, tapi terasa."

Kegiatan belajar ditutup dengan pembagian susu sehat doa bersama. 
Perubahan sosial tidak selalu dimulai dari ruang besar. Ia bisa dimulai dari lorong kecil, dari mutaba'ah sederhana, dari dialog hangat, dan dari pendidikan yang dilakukan dengan hati pelan, konsisten, dan penuh harapan.

Bagikan Berita Ini:
K-apel : Edukasi Kesadaran Kolektif di Ramadhan Hari ke-9
K-apel : Edukasi Kesadaran Kolektif di Ramadhan Hari ke-9

03 Maret 2026

Edukasi Literasi Ramadhan