BERSAMA PROR. MARDI NGOPI, MENGUPAS MANGGA DAN MEMETIK MAKNA DARI TANAH PAPUA
Artikel Edukasi News

BERSAMA PROR. MARDI NGOPI, MENGUPAS MANGGA DAN MEMETIK MAKNA DARI TANAH PAPUA

Bang Maman 22 Oktober 2026 195 views
Ringkasan: Silaturrahmi, menimba ilmu dari Prof. Dr. Mardi Adi Armin, M.Hum

By : Rahman Rumaday

       Kadang-kadang, ilmu yang paling dalam tidak kita temukan di ruang kuliah, tidak pula dalam seminar yang penuh teori. Ia justru datang dari obrolan sederhana, secangkir kopi, sepotong mangga, dan seorang guru yang bersedia meluangkan waktunya.

      Ada satu hal yang selalu menarik dari silaturahmi dengan orang-orang berilmu. Kita tidak pernah benar-benar tahu, dari pintu mana sebuah pengetahuan akan masuk ke dalam pikiran kita. Kadang lewat buku yang tebal, kadang melalui perdebatan yang panjang, tetapi tidak jarang justru melalui obrolan santai di depan rumah, sambil menikmati kopi dan mengupas buah mangga.

       Dan begitulah cerita saya bersama Prof. Mardi, Guru Besar Filsafat Bahasa pada Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin Makassar.

       Selasa, 20 Oktober 2026, saya berkesempatan bersilaturahmi langsung di kediaman beliau, di Kompleks Perumahan Dosen Unhas, Jalan Sastra II, Antang, Makassar. Sebuah pertemuan yang awalnya terlihat sederhana, tetapi ternyata menyimpan banyak hal yang layak direnungkan.

        Ceritanya bermula sehari sebelumnya.

     Tiba-tiba saya menerima pesan WhatsApp dari Prof. Mardi. Bukan undangan resmi, bukan pula pesan panjang yang berisi agenda pertemuan. Beliau mengirimkan gambar buah mangga. Ada beberapa yang sudah dimasukkan ke dalam kantong plastik hitam, sementara sebagian lainnya masih terlihat seperti baru saja dikumpulkan, mungkin baru dipetik atau dijolok dari pohonnya.

      Lalu masuklah sebuah pesan yang sederhana.

      "Sudah bisa berkendara ke rumah Bung Maman?"

      Pertanyaan ini mungkin maksudnya apakah saya sudah bisa bergerak jauh dengan mengendalikan motor sendiri?

      Ya, karena saya baru bangkit dari tempat tidur setelah satu Minggu disuruh istirahat sejenak di rumah.

       Saya pun membalas dengan bertanya, "Izin, Prof. Di mana itu, Prof?"

       Beliau kemudian menjelaskan, "Kompleks Unhas Antang."

       Maklum, biasanya kami bertemu di apartemen beliau. Jadi, kali ini Prof. Mardi memastikan bahwa tempat yang dimaksud adalah kediamannya di Antang.

      Lalu datang lagi pesan yang membuat saya tersenyum.

      "Kalau bebas, saya tunggu sekitar pukul 09.00. Ngopi dan kupas-kupas mangga.”

       Nah, ini yang menarik.

      Undangannya bukan untuk menghadiri seminar, bukan untuk mengikuti diskusi ilmiah, apalagi untuk duduk dalam forum yang penuh dengan istilah akademik. Hanya ngopi dan mengupas mangga.

      Tetapi, bukankah dalam kehidupan ini kita sering kali terlalu sibuk mencari forum besar, sampai lupa bahwa percakapan sederhana dengan orang yang tepat bisa membuka jendela pemikiran yang luar biasa?

      Saya pun mengiyakan undangan tersebut.

      Keesokan harinya, sekitar pukul 08.26 WITA, Prof. Mardi kembali mengirimkan lokasi melalui Google Maps. Saya membalas, "Baik, Prof. Siap-siap menuju Antang."

      "Ditunggu,"  jawab beliau singkat.

      Saya pun berangkat dari Daeng Tata III menuju lokasi yang telah dikirimkan.

      Sesampainya di rumah Prof. Mardi, suasananya terasa begitu santai. Beliau menyambut saya dengan keramahan yang tidak dibuat-buat. Tanpa banyak formalitas, beliau masuk sebentar ke dalam rumah, kemudian keluar membawa sebuah kursi santai lipat berbahan plastik. Rupanya, sudah ada satu kursi lain di depan rumah.

       Dua kursi, dua orang, dan sebuah pohon mangga yang rindang.

      Kami duduk di depan pagar, tepat di bawah naungan pohon tersebut. Suasananya tenang. Tidak ada kendaraan yang lalu-lalang, sebab di ujung jalan terdapat portal yang membatasi akses kendaraan. Jadi, tidak ada suara mesin yang mengganggu obrolan kami.

       Hahaha... suasananya benar-benar mendukung untuk duduk santai dan berbincang panjang.

      Saya kira, inilah salah satu kemewahan hidup yang sering luput kita sadari. Bukan kemewahan berupa bangunan megah atau fasilitas yang serba lengkap, melainkan kesempatan untuk duduk tenang bersama seseorang yang punya banyak pengalaman dan pengetahuan, tanpa harus dibatasi oleh protokol dan formalitas.

      Tidak lama kemudian, Prof. Mardi masuk kembali ke rumah. Tak berselang lama, beliau keluar dengan membawa nampan warna pink berisi pisau dan sebuah mangga berukuran besar.

       Saya sempat memperhatikan buah itu. Bentuknya berbeda dari mangga yang biasa kita jumpai di pasar. Ukurannya besar, daging buahnya tampak menjanjikan. Saya menduga mangga itu berasal dari bibit luar negeri, dan ternyata dugaan saya benar. Prof. Mardi menjelaskan asal bibitnya, meskipun saya lupa nama negara yang beliau sebutkan.

        Maklumlah, namanya juga manusia. Ada kalanya ingatan kita begitu kuat menangkap sebuah cerita, tetapi justru lupa pada satu nama yang sebenarnya penting. Hahaha...

      Lalu beliau mempersilakan saya.

      "Silakan dikupas. Itu khusus untuk Bung Maman."

      Saya pun mulai mengupas mangga tersebut.

      Luar biasa! Baru satu buah, rasanya sudah cukup membuat kenyang. Bagaimana tidak? Ukurannya besar, dagingnya tebal dan padat, sementara bijinya relatif kecil.

      Sambil menikmati mangga itu, saya sempat berpikir, ternyata buah yang terlihat sederhana bisa menyimpan kejutan ketika kita benar-benar mengenalnya. Dari luar kita hanya melihat kulitnya, tetapi setelah dikupas, barulah kita mengetahui seberapa tebal daging buahnya dan seberapa kecil bijinya.

       Bukankah manusia juga demikian?

      Kita sering terlalu cepat menilai seseorang dari penampilannya, gelarnya, atau posisi yang sedang ia duduki. Padahal, kualitas seseorang justru terlihat dari apa yang ada di dalam dirinya yakni pengalaman, keluasan pandangan, kebijaksanaan, dan kemampuannya memberi manfaat bagi orang lain.

      Tentu saja, saya tidak sedang mengatakan bahwa mangga dan manusia sama. Hahaha... Tetapi, ada pelajaran kecil yang bisa kita ambil dari sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.

      Bahwa tidak semua yang berharga langsung terlihat dari luar.

     Setelah mangga itu selesai saya kupas dan nikmati, Prof. Mardi kembali masuk ke dalam rumah. Kali ini beliau keluar membawa sebuah cangkir kopi, dan sebuah Tumbler ukuran mini lengkap dengan gula yang disajikan terpisah.

      Kami kembali duduk santai.

      Di sinilah, bagi saya, bagian paling berharga dari pertemuan itu dimulai.

      Saya benar-benar berusaha memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menimba ilmu dari beliau. Saya sadar, bertemu seorang guru besar bukan semata-mata kesempatan untuk berfoto bersama, mencatat nama, atau sebatas mengatakan bahwa kita pernah berkunjung. Lebih dari itu, pertemuan semestinya menjadi ruang untuk memperkaya cara pandang dan memperluas pemahaman tentang kehidupan.

       Terlebih Prof. Mardi memiliki pengalaman sebagai dosen luar biasa di Papua. Pengalaman tersebut menjadi pintu masuk bagi obrolan kami tentang sejumlah persoalan yang menarik, mulai dari ketahanan ideologi, Papua dan dinamika sosialnya, agroekologi masyarakat pegunungan, hingga bahasa Indonesia yang digunakan oleh masyarakat Papua.

      Topik-topik itu tentu bukan perkara sederhana. Ada sejarah, kebudayaan, pengalaman hidup, dan cara masyarakat memahami lingkungannya yang saling berkelindan di dalamnya.

      Dari obrolan tersebut, saya       kembali diingatkan bahwa memahami masyarakat tidak cukup hanya dengan membaca data dari kejauhan. Kita perlu mendengar cerita mereka, mengenali cara mereka memandang kehidupan, dan memahami hubungan mereka dengan tanah, alam, bahasa, serta lingkungan sosialnya.

       Sebab, sering kali persoalan yang terlihat sederhana dari luar ternyata memiliki akar yang panjang ketika kita mencoba memahaminya lebih dekat.

      Ketahanan ideologi, misalnya, tidak bisa semata-mata dipahami sebagai persoalan hafalan tentang nilai dan prinsip. Ia juga berkaitan dengan bagaimana nilai itu hidup dalam keseharian masyarakat, bagaimana mereka memaknai identitasnya, dan bagaimana mereka menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan pijakan.

       Begitu pula ketika berbicara tentang masyarakat pegunungan di Papua. Hubungan manusia dengan alam bukan sebatas persoalan bagaimana mengambil hasil bumi, melainkan juga bagaimana menjaga keseimbangan antara kebutuhan hidup, keberlanjutan lingkungan, dan pengetahuan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi.

      Dari sini, saya merasa bahwa ilmu pengetahuan menjadi sangat menarik ketika ia tidak berhenti di ruang akademik, tetapi bertemu langsung dengan kenyataan hidup.

      Ada ilmu yang kita dapatkan dari buku. Ada pula ilmu yang baru benar-benar kita pahami setelah mendengar pengalaman orang yang pernah hidup dan bekerja di tengah masyarakat yang sedang ia ceritakan.

      Dan, pagi itu, saya mendapatkan kesempatan untuk mendengarkan sebagian dari pengalaman tersebut langsung dari Prof. Mardi.

       Salah satu bagian obrolan yang paling membekas bagi saya adalah ketika Prof. Mardi membicarakan bahasa Indonesia yang digunakan oleh masyarakat Papua.

       Beliau menyampaikan bahwa bahasa Indonesia orang Papua itu merupakan bahasa Indonesia yang baik.

       Pernyataan ini menarik untuk direnungkan, terutama ketika kita sering kali terjebak dalam kebiasaan menilai cara seseorang berbicara berdasarkan standar yang kita anggap paling lazim. Padahal, bahasa bukan hanya persoalan bunyi, susunan kalimat, atau kesesuaian dengan kebiasaan kita sendiri. Bahasa juga merupakan ruang tempat pengalaman, kebudayaan, dan identitas manusia bertemu.

       Setiap masyarakat memiliki cara untuk mengungkapkan pikirannya. Ada kekhasan yang tumbuh dari lingkungan sosial, sejarah pergaulan, dan pengalaman hidup mereka. Karena itu, memahami bahasa juga berarti belajar memahami manusia yang menggunakannya.

       Di sini saya teringat sebuah pemikiran yang sering dikaitkan dengan filsuf Muslim Ibnu Khaldun. Dalam Muqaddimah, ia menjelaskan betapa pentingnya memahami kehidupan manusia melalui masyarakat, kebiasaan, dan keadaan yang membentuknya.

        Artinya, kalau kita ingin memahami seseorang atau sebuah masyarakat, jangan buru-buru meletakkan ukuran kita sendiri sebagai satu-satunya ukuran yang benar. Cobalah mendengar terlebih dahulu, memahami konteksnya, lalu menimbang dengan pikiran yang terbuka.

       Sebab, bisa jadi yang selama ini kita anggap berbeda justru menyimpan pengetahuan yang belum pernah kita pahami.

       Dan bukankah salah satu tanda keluasan ilmu adalah kemampuan seseorang untuk tetap rendah hati ketika berhadapan dengan sesuatu yang berbeda dari dirinya?

      Namun, ada satu pernyataan yang disampaikan Prof. Mardi tentang salah seorang mahasiswanya dari Papua yang terus mengundang rasa penasaran saya.

      Prof. Mardi mengutip perkataan mahasiswanya itu:

      "Kami lahir untuk memetik."

       Kalimatnya pendek. Sederhana. Bahkan, kalau kita mendengarnya sekilas, mungkin kita akan menganggapnya sebagai ungkapan biasa.

     Tetapi, tunggu dulu.

      Apa sebenarnya makna di balik kalimat itu?

      Mengapa ia memilih kata memetik? Apa yang hendak dipetik? Buah kehidupan? Hasil perjuangan? Pengetahuan? Atau sesuatu yang lebih dalam daripada itu?

       Saya kira, kalimat tersebut menyimpan ruang perenungan yang luas.

        Kata memetik mengandung gambaran tentang sesuatu yang telah tumbuh, sesuatu yang membutuhkan waktu untuk berkembang, dan sesuatu yang baru bisa dinikmati ketika tiba pada saatnya.

       Kita tidak bisa memetik buah sebelum pohonnya tumbuh. Kita tidak bisa berharap menikmati hasil tanpa memahami proses yang mendahuluinya. Ada benih yang ditanam, ada tanah yang dirawat, ada musim yang dilewati, dan ada kesabaran yang dibutuhkan.

        Dalam kehidupan, sering kali kita terlalu sibuk memikirkan hasil, tetapi kurang bersedia menjalani proses. Kita ingin cepat berhasil, ingin segera mendapatkan pengakuan, ingin segera menikmati buah dari sebuah perjuangan. Padahal, tidak semua hal bisa dipercepat hanya karena kita menginginkannya.

       Ada sesuatu yang memang harus menunggu waktu.

       Ada pengetahuan yang harus dipelajari perlahan-lahan. Ada pengalaman yang hanya bisa diperoleh setelah kita melewati berbagai keadaan. Ada pula kebijaksanaan yang tidak datang hanya karena seseorang memiliki gelar tinggi, tetapi tumbuh dari kesediaannya belajar, mendengar, mengalami, dan memperbaiki diri.

       Maka, ketika seorang mahasiswa dari Papua mengatakan, "Kami lahir untuk memetik,"  saya merasa kalimat itu layak dibawa pulang sebagai bahan renungan.

      Apakah memetik berarti mengambil hasil dari sesuatu yang sudah tersedia? Ataukah ia mengandung makna yang lebih luas yakni bahwa setiap manusia memiliki kesempatan untuk menikmati, mengembangkan, dan mewariskan kebaikan yang telah ditanam oleh generasi sebelumnya?

        Saya tidak ingin tergesa-gesa menyimpulkan makna yang dimaksud oleh mahasiswa tersebut. Justru di situlah menariknya sebuah kalimat yang lahir dari pengalaman hidup. Ia memberi kita ruang untuk bertanya, menafsirkan, dan belajar melihat kehidupan dari sudut pandang orang lain.

       Terkadang, satu kalimat dari seseorang yang sedang belajar justru mampu membuat kita yang merasa sudah banyak tahu kembali belajar menjadi murid.

       Dan mungkin, itulah salah satu keindahan ilmu pengetahuan yaitu ia tidak selalu hadir untuk menutup pertanyaan, tetapi sering kali justru membuka pertanyaan-pertanyaan baru yang membuat kita semakin ingin memahami kehidupan.

      Tidak terasa, obrolan kami berlangsung hingga waktu zuhur tiba.

      Waktu memang punya caranya sendiri untuk mengingatkan kita. Ketika sedang menjalani sesuatu yang menyenangkan dan bermanfaat, kita sering tidak sadar bahwa jam terus bergerak. Tahu-tahu, pagi sudah menjelang siang.

       Saya pun berpamitan kepada Prof. Mardi untuk kembali pulang.

      Saya meninggalkan rumah beliau bukan hanya dengan pengalaman menikmati mangga berukuran besar dan secangkir kopi, tetapi juga dengan sejumlah pemikiran yang masih terus berjalan di kepala.

      Ada banyak hal yang bisa diceritakan dari sebuah silaturahmi. Namun, bagi saya, yang paling penting bukan sebatas ke mana kita pergi atau siapa yang kita temui. Yang jauh lebih penting adalah apa yang kita bawa pulang setelah pertemuan itu selesai.

      Apakah kita pulang hanya dengan kenangan? Ataukah ada pengetahuan baru yang membuat cara kita memandang kehidupan menjadi sedikit lebih luas?

Pagi itu, saya belajar bahwa silaturahmi tidak harus selalu berlangsung dalam acara besar. Tidak harus ada panggung, pengeras suara, moderator, atau susunan acara yang panjang. Terkadang, dua kursi plastik di bawah pohon mangga sudah cukup untuk membuka percakapan yang berharga.

      Saya juga belajar bahwa orang berilmu tidak selalu harus kita temui dalam suasana resmi. Ada kalanya kita justru lebih mudah memahami pemikirannya ketika ia sedang menjadi dirinya sendiri yakni duduk santai, menyuguhkan kopi, berbagi buah, lalu bercerita tentang pengalaman dan pengetahuan yang ia miliki.

      Di situlah ilmu terasa dekat dengan kehidupan.

       Bukan sesuatu yang berdiri tinggi di menara gading, tetapi sesuatu yang bisa dibagikan dengan sederhana, tanpa kehilangan kedalaman maknanya.

       Dan saya kira, inilah yang membuat silaturahmi menjadi begitu penting. Ia bukan hanya jalan untuk menjaga hubungan baik, melainkan juga kesempatan untuk saling memperkaya pikiran, saling mengenal pengalaman, dan saling membuka ruang belajar.

        Rasulullah SAW. Dalam sebuah hadis mengajarkan pentingnya menjaga silaturahmi. bahwa orang yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan jejak kehidupannya hendaknya menyambung tali silaturahmi.

      Bagi saya, kelapangan itu tidak selalu harus dimaknai secara material. Silaturahmi juga bisa melapangkan cara berpikir, memperluas pergaulan, dan memperkaya pemahaman kita terhadap manusia serta kehidupan.

        Tentu, itu bukan satu-satunya makna dari hadis tersebut, tetapi menjadi salah satu pelajaran yang saya rasakan dalam pertemuan sederhana pagi itu.

       Saya datang untuk bersilaturahmi. Saya menikmati mangga dan kopi. Tetapi, di antara obrolan tentang Papua, ketahanan ideologi, agroekologi masyarakat pegunungan, dan bahasa, saya juga mendapatkan kesempatan untuk memetik sesuatu yang tidak bisa dibawa dalam kantong plastik.

      Saya memetik pelajaran.

      Bahwa ilmu bisa tumbuh di mana saja, selama kita bersedia membuka diri untuk belajar.

      Bahwa kebijaksanaan tidak selalu datang melalui percakapan yang rumit, tetapi bisa hadir melalui pertanyaan sederhana yang membuat kita berpikir lebih dalam.

      Dan bahwa dalam perjalanan kehidupan, kita tidak pernah benar-benar selesai menjadi murid.

      Barangkali, kita memang tidak hanya dilahirkan untuk memetik hasil. Kita juga perlu belajar menanam, merawat, dan menjaga agar sesuatu yang baik tetap tumbuh, sehingga kelak orang lain pun memiliki kesempatan untuk memetiknya.

      Sebab, kehidupan yang baik bukan hanya tentang seberapa banyak yang berhasil kita nikmati, melainkan juga tentang seberapa banyak kebaikan yang kita tinggalkan agar dapat dinikmati oleh orang lain.

       Terima kasih, Prof. Mardi, atas waktu dan kesempatan bersilaturahmi, menikmati mangga, menyeruput kopi, dan terutama berbagi ilmu serta pengalaman.

    Sehat selalu berkah ilmunya Prof.aamiin

 

PT, 22/10/2026

Bagikan Berita Ini:
BERSAMA PROR. MARDI NGOPI, MENGUPAS MANGGA DAN MEMETIK MAKNA DARI TANAH PAPUA
BERSAMA PROR. MARDI NGOPI, MENGUPAS MANGGA DAN MEMETIK MAKNA DARI TANAH PAPUA

22 Oktober 2026

Silaturrahmi, menimba ilmu dari Prof. Dr. Mardi Adi Armin, M.Hum